Kamis, 16 April 2015

PENILAIAN DALAM PEMBELAJARAN TAKTIK



PENILAIAN DALAM PEMBELAJARAN PENDEKATAN TAKTIK
A.  Pendahuluan
Sebagai guru seharusnya kita selalu bertentang untuk menemukan sumber-sumber untuk mendesaian permainan, latihan, dan penilaian yang sejalan dengan pendekatan Teaching Games for Understanding (Pembelajaran Pendekatan Taktik). Tujuan pembelajaran ini adalah untuk mendeskrepsikan komponen-komponen atau aspek-aspek permainan yang perlu ditimbangkan ketika memilih dan mendesaian penilaian siswa.
Permainan adalah pengajaran dan pembelajaran yang sangat bermanfaat. Permainan dapat berfungsi sebagai sarana untuk meningkatkan kesehatan, gaya hidup yang aktif dan perubahan sosial. Semua hal tersebut membutuhkan keyakinan kita tentang bagaimana kita mengajar permainan dan kesadaran tentang apa yang kita inginkan dari siswa untuk dipahami mengenai permainan.

B. Pentingnya penilaian
Dr.Deborah Tannhehill menyatakan bahwa “jika mengajar dan belajar itu penting, penilaian juga sama pentingnya”. Metode penilaian harus disesuaikan dengan apa yang kita ajarkan dan bagaimana kita memberi pengajaran. Jadi jika kita menginginkan siswa belajar bagaimana memainkan permainan, kita harus menilai ketrampilan bermain mereka.

C. Masalah dalam Penilaian
Sebagian besar kesulitan dalam mengubah pengajaran dan penilaian kita dari pendekatan teknis atau yang berbasis keterampilan menjadi pendekatan Pembelajaran Pendekatan Taktik, banyak asumsi yang salah yang dibuat mengenai  keterampilan dan pengembangan keterampilan. Masalah yang sering dihadapi guru dalam mengajar siswa adalah guru kesulitan untuk memodifikasi permainan yang sudah ada. Dalam mengajar kepada siswanya guru harus kreatif membuat permainan. Misal memodifikasi permaian bola voli yang seharusnya ada 6 pemain setiap kelompok menjadi 8-10 pemain agar siswanya tidak terlalu lama menunggu giliran bermain.
Selain masalah diatas masih ada juga masalah lain seperti guru pendidikan jasmani yang mempertahankan asumsi bahwa kita tidak dapat memainkan permainan sebelum kita mempelajari keterampilan terlebih dahulu. Kita tidak perlu punya ketrampilan, tetapi kita hanya memeainkan permainan begitu saja. Disaat bermain itu akan terjadi pengembangan ketrampilan. Semakin sering bermain maka ketrampilan akan semakin berkembang karena siswa dapat mempelajari sendiri tentang keterampilan apa yang dibutuhkan dalam permainan.
  

D. Pengembangan Keterampilan Permainan
Siswa mengunakan keterampilan dalam permainan supaya keahlihan siswa tersalur dalam permainan tersebut. Maka kita sebagai guru harus memberikan kesempatan pada siswa untuk mengembangkan kemahiran dan kepercayaan diri mereka agar mampu menjadi pemain permainan yang baik. Selain itu guru perlu memilih atau mendesain tugas, permainan dan penilaian yang memerlukan bentuk yang sama dari gerakan yang diperlukan untuk suksesnya permainan.

E. Pertimbangan Elemen-Elemen Kontekstual
Diluar elemen penampilan bermain, guru perlu mempertimbangkan elemen kontekstual karena dapan membuat penilaian penampilan bermain menjadi sulit. Permainan di kontruksi dan di rekontruksi sepanjang waktu. Permainan bersifat kompetitif karena untuk menguji kemapuan fisik, keberanian, hal ini melibatkan kemampuan kognitif seperti manuver taktik. Permainan bersifat interaktif interaksi muncul dengan rekan satu tim, lawan, penyelengara, dan penonton. Interaksi ini memiliki dampak baik bagi keterampilan dan penampilan bermain.
Permainan diatur oleh peraturan-peraturan. Pertauran tidak hanya mengartur permainan, tetapi juga menentukan atau menjelaskan ketrampilan-ketrampilan yang diperlukan dalam permainan. Taktik dan strategi adalah elemen penting dalam permainan, elemen-elemen ini mendiktai bagaimana dan kapan kita mengunakan keterampilan dan keterampilan apa yang kita gunakan dalam permainan tersebut.

F. Kelas Sama Permainan Berbeda
Dalam kelas-kelas pendidikan jasmani, permainan yang sama sering kali diinterprestasikan dengan berbeda. Misalnya, di sebuah pelajaran siswa diintruksikan untuk memainkan permainan bola basket setengah lapangan. Para pemain dalam sebuah permainan memulai kembali permainandari tengah lapangan, melakukan pelanggaran dan melakukan banyak operan. Dalam sebuah permainan pada lapangan bersebelahan, pemain memilih untuk memulai permainan mulai dari baseline., tidak melakukan pelanggaran, dan seringkali melakukan drible atau menembakan. Sebagai seorang guru yang mengamati apakah perubahan aturan membatasi mengakomodasi sasaran atau tujuan pelajaran, dan siswa perlu dimentori secara dekat untuk memastikan mencapai tugas yang telah di berikan, dan sekmen tanya jawab juga dapat digunakan untuk menilai apa yang dipahami siswa. Sebagai tambahan pada akhir pembelajaran guru untuk meninjau kembali tujuan tugas pembelajaran.

G. Metode Penilaian Normal
Game Performance Assessment Intrument (GPAI; Oslin, Mitchell & Griffin, 1998; mitchell &Oslin, 1999) dan Team Spot Assessment Procedure (TSAP; Grehaigne, Godbout, & Bouthier, 1997, 2000) dianjurkan untuk penilaian formal untuk sebagai komponen permainan.
 GPAI terdiri dari tujuh komponen utama yaitu base, adjust, pengembalian keputusan, eksekusi keterampilan, support, guard/mark yang meliputi semua katagori permainan (invasi, net/wall, striking/fielding, dan target).
TSAP berfokus pada dua aspek fundamental dalam permainan; (1) perolehan kepemilikan bola , (merebut atau mendapat operan dari teman satu tim dalam lapangan). (2). menempatkan bola segera setelah pemain menguasai bola (mengoper, menendang bola kegawang dan memainkan bola atau memberi assist) pengukuran formal, dikombinasikan dengan pengukuran informal, memberikan penilaian yang berkelanjutan dan dapat membantu guru dalam memberikan pesan yang jelas bahwa tujuan dari pengajaran pendidikan jasmani adalah untuk meningkatkan penampilan bermain siswa

H. Rangkuman
Pengukuran formal, dikombinasikan dengan pengukuran informal, memberikan penilaian yang berkelanjutan dan dapat membantu guru dalam memberikan pesan yang jelas bahwa tujuan dari pengajaran pendidikan jasmani adalah untuk meningkatkan penampilan bermain siswa. Guru pendidikan jasmani adalah “arsitek” dari desain pembelajaran. Mereka harus menciptakan permainan dan penilaian yang terkondisikan yang memacu ketrampilan dan kompetensi yang perlu siswa pelajari agar menjadi pemain permainan yang sukses. Peran penilaian dalam pembelajaran pendekatan taktik adalahsiswa dapat mengembangkan kemahiran dan kompetensi serta kepercayaan diri yang perlu untuk dapat memaikan permainan yang merupakan pembelajaran berharga setelah siswa mengikuti program pendidikan jasmani.
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar